Pagi yang cerah membawa kedamaian dalam hati. Mentari menampakkan diri mengantikkan gelapnya malam dengan sinarnya. Aku merasa bahagia karena apa yang menjadi beban dan tanggungjawabku sebentar lagi akan kelar. Aku kesatu berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Meski sinar mentari sangat menyengat kala itu, tetapi hal itu memang sudah menjadi santapan sehari-hariku. Dalam perjalanan ke kampus, seorang teman menghampiriku dengan motornya. Aku pun langsung naik dan berangkat ke kampus bersama-sama. Sampai di kampus, akupun duduk sejenak untuk beristirahat sambil bercerita dengan sorang teman. Setelah itu, akupun langsung bergegas pergi ke sebuah tempat, katakanlah gedung untuk mengambil X. aku dan sebagian temanku langsung menyusunnya menjadi satu kesatuan.
Waktu terus berjalan, tanpa disadari sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, karena hari itu adalah hari jum’at, maka kamipun langsung bergegas ke mesjid untuk sholat jum’at. Setelah selesai sholat, kami kembali menyusun X yang rencananya akan kami bagi kepada mahasiswa baru pada saat itu. X siap untuk desebar. Kami pun langsung mengambil bagian masing-masing untuk kami sebar.
Mentari siang sudah mulai redup, akupun kembali ketempat kami melakukan kegiatan. Tiba-tiba sekelompok orang datang menghampiri. Katanlah si A. mereka protes foto halaman depan X. suasana memanas, kami pun menahan emosi dan selalu bicara baik-baik dengan mereka. Meskipun demikia, mereka tetap membuat keonaran dengan merobek-robek X. Rasa takut sempat menghampiri, meski hanya sebentar, tetapi itu cukup berarti “ternyata inilah dunia sesungguhnya, semua masalah datang silih berganti.” Orang-orng pendahulu kami, katakanlah si B yang selalu memberikan spirit dan berusaha meyakinkan kami agar menghadapi permasalahan ini dengan serius dan tidak takut dengan ancaman si A. Aka sempat mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh si B “api itu harus dilawan dengan air, tetapi jika tetap sama, maka lawan api dengan api biar semua rata dengan tanah.” Aku hanya bisa duduk terdiam di dekat pintu sambil sesekali melihat tindakan mereka dan aku pun selalu memperhatikan teman-temanku karena jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Yang ada dalam pikiranku pada saat itu “inilah pengkadera sesungguhnya, mungkin pengaderan yang telah aku lewati hanya gambaran akan dunia nyata. Kita seakan disuruh tidur dan bemimpi dan sekarang aku seakan dibangunkan dari mimpi-mimpi itu untuk melihat realitas sesungguhnya. Pembicaraan antara kami dengan si A belum juga usai dan belum mendapat kesepakatan. Mereka sempat mengancam untuk menyelesaikan permasalahan ini diluar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar