Cari Blog Ini

Minggu, 30 Agustus 2009

Harap-Harap Cemas

Pagi yang cerah membawa kedamaian dalam hati. Mentari menampakkan diri mengantikkan gelapnya malam dengan sinarnya. Aku merasa bahagia karena apa yang menjadi beban dan tanggungjawabku sebentar lagi akan kelar. Aku kesatu berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Meski sinar mentari sangat menyengat kala itu, tetapi hal itu memang sudah menjadi santapan sehari-hariku. Dalam perjalanan ke kampus, seorang teman menghampiriku dengan motornya. Aku pun langsung naik dan berangkat ke kampus bersama-sama. Sampai di kampus, akupun duduk sejenak untuk beristirahat sambil bercerita dengan sorang teman. Setelah itu, akupun langsung bergegas pergi ke sebuah tempat, katakanlah gedung untuk mengambil X. aku dan sebagian temanku langsung menyusunnya menjadi satu kesatuan.
Waktu terus berjalan, tanpa disadari sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, karena hari itu adalah hari jum’at, maka kamipun langsung bergegas ke mesjid untuk sholat jum’at. Setelah selesai sholat, kami kembali menyusun X yang rencananya akan kami bagi kepada mahasiswa baru pada saat itu. X siap untuk desebar. Kami pun langsung mengambil bagian masing-masing untuk kami sebar.
Mentari siang sudah mulai redup, akupun kembali ketempat kami melakukan kegiatan. Tiba-tiba sekelompok orang datang menghampiri. Katanlah si A. mereka protes foto halaman depan X. suasana memanas, kami pun menahan emosi dan selalu bicara baik-baik dengan mereka. Meskipun demikia, mereka tetap membuat keonaran dengan merobek-robek X. Rasa takut sempat menghampiri, meski hanya sebentar, tetapi itu cukup berarti “ternyata inilah dunia sesungguhnya, semua masalah datang silih berganti.” Orang-orng pendahulu kami, katakanlah si B yang selalu memberikan spirit dan berusaha meyakinkan kami agar menghadapi permasalahan ini dengan serius dan tidak takut dengan ancaman si A. Aka sempat mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh si B “api itu harus dilawan dengan air, tetapi jika tetap sama, maka lawan api dengan api biar semua rata dengan tanah.” Aku hanya bisa duduk terdiam di dekat pintu sambil sesekali melihat tindakan mereka dan aku pun selalu memperhatikan teman-temanku karena jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Yang ada dalam pikiranku pada saat itu “inilah pengkadera sesungguhnya, mungkin pengaderan yang telah aku lewati hanya gambaran akan dunia nyata. Kita seakan disuruh tidur dan bemimpi dan sekarang aku seakan dibangunkan dari mimpi-mimpi itu untuk melihat realitas sesungguhnya. Pembicaraan antara kami dengan si A belum juga usai dan belum mendapat kesepakatan. Mereka sempat mengancam untuk menyelesaikan permasalahan ini diluar.

Sabtu, 29 Agustus 2009

WELCO TO MY BLOG

Selamat datang.......
mudah-mudahan tulisan yang saya sajikan bisa bermanfaat....

Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan. Setiap muslim diwajibkan untuk berpuasa pada bulan ini.sembahyang dan mengaji merupakan aktivitas yang baik di bulan ini demi mendapatkan sebuah kebahagian di akhirat kelak. Dihari ketujuh ramadhan ini, aku masih bisa menjalankan ibadah puasa, meskipun terkadang sholatnya masih sering bolong-bolong. meskipun puasa, aku tetap menjalankan aktivitasku karena kau tahu bulan puasa bukanlah alasan utnuk bermalas-malasan. Sebenarnya aku pengen sekali menikmati bulan liburan puasa ini di kampung,tetapi karena masih banyak kegiatan dan urusan yang belumkelar, maka aku harus bertahan di kampuang orang demi sebuah tanggung jawab. Meskipun aku ingin meninggalkan kegiatanku, tapi aku juga ragu dengan diriku. jngan sampai ketika aku pulang dan berlama-lama di kampung, mungkin aku akan cepat bosan dengan kondisi disana. akahirnya aku memutuskan untuk tidak cepat pulang dan menikmati bulan puasa disini, di perantauanku. Meski sering kali hanya berbuka denga seadanya, tapi aku cukup senang karena masih banyak orang-orang yang lebih parah dari keadaanku. tetap semangat aja menjalani bulan puasa meski buka pusanya tidak seperti dikampung. mungkin inilah kehidupan yang selalu berputar bagai sebuah roda dan inilah yang memang harus dirasakan oleh setiap perantau karena untuk mendapatkan sebuah kesuksesan itu tidak mudah.....

Jumat, 28 Agustus 2009

Peringatan Hari Kemerdekaan

Waktu begi cepat berlalu, tidak terasa perayaan hari kemerdekaan yang betepatan pada tanggal 17 agustus. Keceriaan dan semangat akan hari keerdekaan seantiasa terpancar dari wajah generasi muda penerus bangsa. Beragan loba diadakan untuk memeriahkan peringatan 17 Waktu begi cepat berlalu, tidak terasa perayaan hari kemerdekaan yang betepatan pada tanggal 17 agustus. Keceriaan dan semangat akan hari keerdekaan seantiasa terpancar dari wajah generasi muda penerus bangsa. Beragan loba diadakan untuk memeriahkan peringatan 17 agustus. Banyak item lomba, mulai dari lomba untuk anak-anak sapai orang dewasa. Perayaan hari keerdekaan ini selalu irangkaikan dengan rbagai lomba seperti panjat pinang, gerak jalan santai dan masih banyak lagi ite lomba yang tidak kalah seru.
Mungkin lagu diatas selalu terdengar setiap peryaan hari kemerdekaan. Lirik lagu tersebut sudah cukup dlam memberikan gambaran mengenai cita-cita sebuah bangsa Indonesia, yaitu ingin merdeka dan menuju kebahagiaan, bukan penindasan. Teringat masa kecil dulu kala masih SD, SMP sampai SMA, dimana setiap malam tujuh belasa agustus selalu diadakan pawai keliling dengan embawa obor dan beragam atraksi atau dengan membawa hasil karya masing-masing yang melambangkan jurusan dari tiap sekolah. Sungguh kenangan yang tak terlupakan. Semangat perjungan seakan tumbuh kebali kala itu.
Mungkin cerita diatas hanyalah sebagian kecil gambaran pada setiap perayaan hai keerdekaan. Sebenarnya yang ingin penulis bahas pada kesepatan ini, yaitu “Peringatan Hari Kemerdekaan.” Merdeka dalam kamus bahasa Indonesi berarti bebas atau tidak dijajah lagi. Merdeka itu berarti bebas dari segal bentuk penjajahan baiitu penjajaha fisik maupun secara pemikiran. Pembahasan mengenai kemerdekaan di atas mungkin sudah mewakili mengenai arti dari sebuah kemerdekaa. Peringatan hari kemerdekaan yang selalu dilaksanakan setiap tanggal 17 agustus ini bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan yang rela berkorban memperjuangkan kemerdekaan dan rela mengorbankan segala apa yang mereka miliki, bahkan nyawa sekalipun.
Sekarang Indonesia sudah berumur 64 tahun dan mungkin kalau Indonesia ini adalah seorang manusia, maka dia pasti sudah sangat tua. Untungnya dia bukan seorang manusia. Meskipun demikin, tetapi sehaarusnya di umurnya yang 64 tahun ini, Indonesia seharusnya sudah lebih baik. Akan etapi, realitas yang terjadi sekarang tidak demikian adanya. Pada umur yang 64 tahun ini justru Indonesia seakan semakin terjajah. Mekipun tdak erjaah secara fisik, namun hal itucukup berdampak buruk untuk Indonesia. Sekarang saatnya kita bersatu untuk membangkitkan kembali semangat kemerdekaan, membangkitkan bangsa ini dari keterpurukkan yang seakan tidak Nampak kepermukaan. Meski perlahan, tetapi pasti. Ada saat dimana kita harus diam, ada saatnya kita untuk bicara dan sekarang saatnya buat kita, khususnya generasi muda untuk bangkit dan berjuang untuk Indonesia. Merdeka………!!! agustus. Banyak item lomba, mulai dari lomba untuk anak-anak sapai orang dewasa. Perayaan hari keerdekaan ini selalu irangkaikan dengan rbagai lomba seperti panjat pinang, gerak jalan santai dan masih banyak lagi ite lomba yang tidak kalah seru.
Mungkin lagu diatas selalu terdengar setiap peryaan hari kemerdekaan. Lirik lagu tersebut sudah cukup dlam memberikan gambaran mengenai cita-cita sebuah bangsa Indonesia, yaitu ingin merdeka dan menuju kebahagiaan, bukan penindasan. Teringat masa kecil dulu kala masih SD, SMP sampai SMA, dimana setiap malam tujuh belasa agustus selalu diadakan pawai keliling dengan embawa obor dan beragam atraksi atau dengan membawa hasil karya masing-masing Waktu begi cepat berlalu, tidak terasa perayaan hari kemerdekaan yang betepatan pada tanggal 17 agustus. Keceriaan dan semangat akan hari keerdekaan seantiasa terpancar dari wajah generasi muda penerus bangsa. Beragan loba diadakan untuk memeriahkan peringatan 17 agustus. Banyak item lomba, mulai dari lomba untuk anak-anak sapai orang dewasa. Perayaan hari keerdekaan ini selalu irangkaikan dengan rbagai lomba seperti panjat pinang, gerak jalan santai dan masih banyak lagi ite lomba yang tidak kalah seru.
Mungkin lagu diatas selalu terdengar setiap peryaan hari kemerdekaan. Lirik lagu tersebut sudah cukup dlam memberikan gambaran mengenai cita-cita sebuah bangsa Indonesia, yaitu ingin merdeka dan menuju kebahagiaan, bukan penindasan. Teringat masa kecil dulu kala masih SD, SMP sampai SMA, dimana setiap malam tujuh belasa agustus selalu diadakan pawai keliling dengan embawa obor dan beragam atraksi atau dengan membawa hasil karya masing-masing yang melambangkan jurusan dari tiap sekolah. Sungguh kenangan yang tak terlupakan. Semangat perjungan seakan tumbuh kebali kala itu.
Mungkin cerita diatas hanyalah sebagian kecil gambaran pada setiap perayaan hai keerdekaan. Sebenarnya yang ingin penulis bahas pada kesepatan ini, yaitu “Peringatan Hari Kemerdekaan.” Merdeka dalam kamus bahasa Indonesi berarti bebas atau tidak dijajah lagi. Merdeka itu berarti bebas dari segal bentuk penjajahan baiitu penjajaha fisik maupun secara pemikiran. Pembahasan mengenai kemerdekaan di atas mungkin sudah mewakili mengenai arti dari sebuah kemerdekaa. Peringatan hari kemerdekaan yang selalu dilaksanakan setiap tanggal 17 agustus ini bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan yang rela berkorban memperjuangkan kemerdekaan dan rela mengorbankan segala apa yang mereka miliki, bahkan nyawa sekalipun.
Sekarang Indonesia sudah berumur 64 tahun dan mungkin kalau Indonesia ini adalah seorang manusia, maka dia pasti sudah sangat tua. Untungnya dia bukan seorang manusia. Meskipun demikin, tetapi sehaarusnya di umurnya yang 64 tahun ini, Indonesia seharusnya sudah lebih baik. Akan etapi, realitas yang terjadi sekarang tidak demikian adanya. Pada umur yang 64 tahun ini justru Indonesia seakan semakin terjajah. Mekipun tdak erjaah secara fisik, namun hal itucukup berdampak buruk untuk Indonesia. Sekarang saatnya kita bersatu untuk membangkitkan kembali semangat kemerdekaan, membangkitkan bangsa ini dari keterpurukkan yang seakan tidak Nampak kepermukaan. Meski perlahan, tetapi pasti. Ada saat dimana kita harus diam, ada saatnya kita untuk bicara dan sekarang saatnya buat kita, khususnya generasi muda untuk bangkit dan berjuang untuk Indonesia. Merdeka………!!! yang melambangkan jurusan dari tiap sekolah. Sungguh kenangan yang tak terlupakan. Semangat perjungan seakan tumbuh kebali kala itu.
Mungkin cerita diatas hanyalah sebagian kecil gambaran pada setiap perayaan hai keerdekaan. Sebenarnya yang ingin penulis bahas pada kesepatan ini, yaitu “Peringatan Hari Kemerdekaan.” Merdeka dalam kamus bahasa Indonesi berarti bebas atau tidak dijajah lagi. Merdeka itu berarti bebas dari segal bentuk penjajahan baiitu penjajaha fisik maupun secara pemikiran. Pembahasan mengenai kemerdekaan di atas mungkin sudah mewakili mengenai arti dari sebuah kemerdekaa. Peringatan hari kemerdekaan yang selalu dilaksanakan setiap tanggal 17 agustus ini bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan yang rela berkorban memperjuangkan kemerdekaan dan rela mengorbankan segala apa yang mereka miliki, bahkan nyawa sekalipun.
Sekarang Indonesia sudah berumur 64 tahun dan mungkin kalau Indonesia ini adalah seorang manusia, maka dia pasti sudah sangat tua. Untungnya dia bukan seorang manusia. Meskipun demikin, tetapi sehaarusnya di umurnya yang 64 tahun ini, Indonesia seharusnya sudah lebih baik. Akan etapi, realitas yang terjadi sekarang tidak demikian adanya. Pada umur yang 64 tahun ini justru Indonesia seakan semakin terjajah. Mekipun tdak erjaah secara fisik, namun hal itucukup berdampak buruk untuk Indonesia. Sekarang saatnya kita bersatu untuk membangkitkan kembali semangat kemerdekaan, membangkitkan bangsa ini dari keterpurukkan yang seakan tidak Nampak kepermukaan. Meski perlahan, tetapi pasti. Ada saat dimana kita harus diam, ada saatnya kita untuk bicara dan sekarang saatnya buat kita, khususnya generasi muda untuk bangkit dan berjuang untuk Indonesia. Merdeka………!!!

Eksploitasi Terhadap Anak

Eksploitasi Terhadap Anak

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu dengan demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu dipaksa pecahkan karang lemah jarimu tergepal,” (Iwan Fals).

Senyum dan tawa selalu terpancar diwajah anak-anak pada pagi hari. Keceriaan itu bagaikan sebuah pertanda dalam menyambut datangnya pagi. Sejuknya embun dan hangatnya mentari selalu menghiasi indahnya hari serta menjadi pelengkap seragam merah putih yang selalu mereka pakai ke sekolah. Dengan semangatnya, ia berlari kerumah membawa sebuah buku rapor yang merupakan catatan hasil belajarnya di sekolah untuk diberikan kepada orang tuannya. Bukan hanya itu, keceriannya selalu terpancar dari wajahnya yang masih sangat luguh menghiasi hari bermainnya dengan teman sebaya.
Kalimat-kalimat diatas adalah sebuah gambaran kebahagiaan anak-anak kala ia dapat bersekolah dan menikmati hari-harinya untuk bermain dengan teman-temanya. Berbeda halnya dengan anak-anak yang yang tidak bisa bersekolah dan tidak bisa bermain layaknya anak-anak. Hari-hari yang seharusnya dihiasi dengan canda tawa kala ia bermain dengan teman-temannya, kini seakan hilang ditelan oleh waktu.
Sebenarnya, yang ingin penulis bahas dalam tulisan ini, yaitu ” Eksploitasi Terhadap Anak”. Eksploitasi dalam kamus ilmiah berarti pemerasan atau penarikan keuntungan secara tidak wajar. Eksploitasi terhadap anak adalah mempekerjakan seorang anak dengan tujuan ingin meraih keuntungan.
Hanya karena ingin memenuhi kebutuhan hidup, banyak orang tua yang rela mempekerjakan anak-anaknya. Anak-anak yang seharusnya bersekolah dan menikmati masa kecilnya dengan bermain, kini harus turun kejalan menjajahkan koran, meminta-minta di jalan dekat lampu merah dan menjajahkan jualannya disekolah atau perguruan tinggi dengan berbagai alasan dan salah satunya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mungkin problematika yang kerap tejadi terhadap anak-anak seakan tidak tampak dari pandangan .mungkin hanya segelintir orang saja yang sadar akan hal itu. Namun, semua itu terjadi secara perlahan tetapi pasti. memang anak harus belajar mengenai seluk beluk kehidupan dengan berbagai permasalahan di dalamnya agar kelak ia bisa menhadapai tantantangan itu. Akan tetapi, bukan berarti seorang anak yang harus mengantikan peran orang tua untuk mencari nafkah. Seharusnya orang tualah yang harus bertanggungjawab terhadap anak-anaknya.
Realitas yang terjadi sekarang, anaklah yang dipaksa bekerja. setiap waktu yang mereka lalui lebih banyak digunakan untuk mencari uang dari pada bermain layaknya seorang anak. Baik pagi maupun malam lebih banyak mereka nikmati dijalan. Meski panasnya mentari kala terik, dinginnya malam dikala hujan, banyaknya debu dan polusi sudah menjadi santapan sehari-hari, tetapi mereka tidak pernah mengeluh akan hal itu. Meskipun sering kali mereka ingin menikmati bangku sekolah dan bisa bermain menikmati indahnya dunia anak-anak.
Eksploitasi terhadap anak masih kerap terjadi, khususnya anak dibawah umur. Hal ini merupakan konsekuensi logis untuk Negara berkembang, dimana peran-peran sosial tidak mempunyai ruang dalam hal memberikan jaminan kesejahteraan, sehingga dinamika sosial terus melakukan segregasi gerak social yang saling mendominasi. Hal tersebut kemudian yang merubah pandangan terhadap standarisasi kesejahteraan yang beralih dari proses sosial ke proses ekonomi yang menyebabkan teraktualisasikannya teori kapitalisasi segala aspek, tidak terkecuali eksploitasi terhadap anak yang dikarenakan oleh peran media yang merubah tingkat produktifitas ekonomi dalam tinjauan umur. Hal ini terjadi karena banyak faktor, diantaranya karena faktor ekonomi yang memakasa orang tua untuk mempekerjakan anaknya meskipun sebenarnya orang tualah yang bertangung jawab untuk menafkahi anak-anaknya dan menyekolahkan mereka. Akibatnya, banyak anak yang rela turun kejalan untuk meminta-minta dan rela tidak bersekolah demi orangtua mereka. Bukan hanya itu, bahkan bayak acara TV pun yang ikut andil pada masalah ini. Salah satu contoh yaitu idola cilik yang mungkin sering anda saksikan, dimana anak-anak seakan dipaksa dewasa dengan menyayikan lagu orang dewasa atau acara TV pada saat memperingati hari anak nasional, dimana anak-anak banyak disuguhi dengan lagu orang dewasa.. Banyak permainan tradisional yang seakan punah akibat perkembangan teknologi. Anak-anak yang dulunya sering bermain, kini menjadi tulang punggung keluarga. Semua orang memang sangat membutuhkan yang namannya uang tapi apakah kita sebagai orang tua/orang yang terdidik rela melihat anak/saudara-saudara kita yang rela meninggalkan kebahagiannya sebagai seorang anak yang selayaknya bertindak dan berprilaku sesuai perannya sebagai seorang anak., dimana mereka seharusnya bermain bukan mencari uang.
Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua khususnya pemerintah jangan cuma memperingati hari anak nasional yang jatuh pada 22 juli dengan seremonial yang mungkin memakan biaya yang cukup banyak tapi mari kita merenung dan menatap kebelakang bagaimana kondisi generasi penerus bangsa. Semua orang pasti menggiginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Oleh karena itu, berikanlah yang terbaik untuk mereka. Jangan biarkan mereka kepanasan ditengah teriknya sang mentari yang dihiasi dengan gumbalan asap kendaraan, tetapi biarkanlah mereka dengan dunianya sendiri, dunia yang penuh dengan keceriaan dan beraneka macam permainan. Biarkan mereka dengan sejuta mimpinya untuk menatap hari esok yang lebih baik .