Cari Blog Ini

Jumat, 28 Agustus 2009

Eksploitasi Terhadap Anak

Eksploitasi Terhadap Anak

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu dengan demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu dipaksa pecahkan karang lemah jarimu tergepal,” (Iwan Fals).

Senyum dan tawa selalu terpancar diwajah anak-anak pada pagi hari. Keceriaan itu bagaikan sebuah pertanda dalam menyambut datangnya pagi. Sejuknya embun dan hangatnya mentari selalu menghiasi indahnya hari serta menjadi pelengkap seragam merah putih yang selalu mereka pakai ke sekolah. Dengan semangatnya, ia berlari kerumah membawa sebuah buku rapor yang merupakan catatan hasil belajarnya di sekolah untuk diberikan kepada orang tuannya. Bukan hanya itu, keceriannya selalu terpancar dari wajahnya yang masih sangat luguh menghiasi hari bermainnya dengan teman sebaya.
Kalimat-kalimat diatas adalah sebuah gambaran kebahagiaan anak-anak kala ia dapat bersekolah dan menikmati hari-harinya untuk bermain dengan teman-temanya. Berbeda halnya dengan anak-anak yang yang tidak bisa bersekolah dan tidak bisa bermain layaknya anak-anak. Hari-hari yang seharusnya dihiasi dengan canda tawa kala ia bermain dengan teman-temannya, kini seakan hilang ditelan oleh waktu.
Sebenarnya, yang ingin penulis bahas dalam tulisan ini, yaitu ” Eksploitasi Terhadap Anak”. Eksploitasi dalam kamus ilmiah berarti pemerasan atau penarikan keuntungan secara tidak wajar. Eksploitasi terhadap anak adalah mempekerjakan seorang anak dengan tujuan ingin meraih keuntungan.
Hanya karena ingin memenuhi kebutuhan hidup, banyak orang tua yang rela mempekerjakan anak-anaknya. Anak-anak yang seharusnya bersekolah dan menikmati masa kecilnya dengan bermain, kini harus turun kejalan menjajahkan koran, meminta-minta di jalan dekat lampu merah dan menjajahkan jualannya disekolah atau perguruan tinggi dengan berbagai alasan dan salah satunya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mungkin problematika yang kerap tejadi terhadap anak-anak seakan tidak tampak dari pandangan .mungkin hanya segelintir orang saja yang sadar akan hal itu. Namun, semua itu terjadi secara perlahan tetapi pasti. memang anak harus belajar mengenai seluk beluk kehidupan dengan berbagai permasalahan di dalamnya agar kelak ia bisa menhadapai tantantangan itu. Akan tetapi, bukan berarti seorang anak yang harus mengantikan peran orang tua untuk mencari nafkah. Seharusnya orang tualah yang harus bertanggungjawab terhadap anak-anaknya.
Realitas yang terjadi sekarang, anaklah yang dipaksa bekerja. setiap waktu yang mereka lalui lebih banyak digunakan untuk mencari uang dari pada bermain layaknya seorang anak. Baik pagi maupun malam lebih banyak mereka nikmati dijalan. Meski panasnya mentari kala terik, dinginnya malam dikala hujan, banyaknya debu dan polusi sudah menjadi santapan sehari-hari, tetapi mereka tidak pernah mengeluh akan hal itu. Meskipun sering kali mereka ingin menikmati bangku sekolah dan bisa bermain menikmati indahnya dunia anak-anak.
Eksploitasi terhadap anak masih kerap terjadi, khususnya anak dibawah umur. Hal ini merupakan konsekuensi logis untuk Negara berkembang, dimana peran-peran sosial tidak mempunyai ruang dalam hal memberikan jaminan kesejahteraan, sehingga dinamika sosial terus melakukan segregasi gerak social yang saling mendominasi. Hal tersebut kemudian yang merubah pandangan terhadap standarisasi kesejahteraan yang beralih dari proses sosial ke proses ekonomi yang menyebabkan teraktualisasikannya teori kapitalisasi segala aspek, tidak terkecuali eksploitasi terhadap anak yang dikarenakan oleh peran media yang merubah tingkat produktifitas ekonomi dalam tinjauan umur. Hal ini terjadi karena banyak faktor, diantaranya karena faktor ekonomi yang memakasa orang tua untuk mempekerjakan anaknya meskipun sebenarnya orang tualah yang bertangung jawab untuk menafkahi anak-anaknya dan menyekolahkan mereka. Akibatnya, banyak anak yang rela turun kejalan untuk meminta-minta dan rela tidak bersekolah demi orangtua mereka. Bukan hanya itu, bahkan bayak acara TV pun yang ikut andil pada masalah ini. Salah satu contoh yaitu idola cilik yang mungkin sering anda saksikan, dimana anak-anak seakan dipaksa dewasa dengan menyayikan lagu orang dewasa atau acara TV pada saat memperingati hari anak nasional, dimana anak-anak banyak disuguhi dengan lagu orang dewasa.. Banyak permainan tradisional yang seakan punah akibat perkembangan teknologi. Anak-anak yang dulunya sering bermain, kini menjadi tulang punggung keluarga. Semua orang memang sangat membutuhkan yang namannya uang tapi apakah kita sebagai orang tua/orang yang terdidik rela melihat anak/saudara-saudara kita yang rela meninggalkan kebahagiannya sebagai seorang anak yang selayaknya bertindak dan berprilaku sesuai perannya sebagai seorang anak., dimana mereka seharusnya bermain bukan mencari uang.
Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua khususnya pemerintah jangan cuma memperingati hari anak nasional yang jatuh pada 22 juli dengan seremonial yang mungkin memakan biaya yang cukup banyak tapi mari kita merenung dan menatap kebelakang bagaimana kondisi generasi penerus bangsa. Semua orang pasti menggiginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Oleh karena itu, berikanlah yang terbaik untuk mereka. Jangan biarkan mereka kepanasan ditengah teriknya sang mentari yang dihiasi dengan gumbalan asap kendaraan, tetapi biarkanlah mereka dengan dunianya sendiri, dunia yang penuh dengan keceriaan dan beraneka macam permainan. Biarkan mereka dengan sejuta mimpinya untuk menatap hari esok yang lebih baik .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar